Tugu Ciboleger dan Cerita di Balik Ikon Wisatanya

Bagi wisatawan yang datang melalui jalur Ciboleger menuju kawasan Baduy, ada satu pemandangan yang sulit dilewatkan.

Di tengah area Terminal Ciboleger berdiri sebuah tugu berbentuk bundar dengan empat patung manusia di atasnya. Tangan mereka seolah menyambut sekaligus menunjukkan arah perjalanan berikutnya menuju wilayah Kanekes.

Tugu Ciboleger dan cerita di balik ikon wisatanya ternyata lebih menarik daripada sekadar lokasi untuk berfoto. Patung tersebut menggambarkan sebuah keluarga dengan pakaian yang terinspirasi dari masyarakat Baduy.

Bahkan, laporan detikTravel mengungkap bahwa sosok-sosok pada patung itu dibuat dengan mengambil keluarga warga Baduy bernama Mursid sebagai model.

Kini tugu tersebut menjadi salah satu landmark paling mudah dikenali di Ciboleger. Jadesta Kementerian Pariwisata bahkan secara khusus memasukkan spot foto Tugu Patung Ciboleger Baduy sebagai salah satu atraksi Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy.

Namun sebelum berfoto, ada baiknya mengenal cerita yang membuat ikon sederhana ini begitu menarik.

Di Mana Tugu Ciboleger Berada?

Tugu Ciboleger berada di kawasan Terminal Ciboleger, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Terminal ini menjadi salah satu titik utama yang digunakan wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan menuju perkampungan Baduy dengan berjalan kaki.

Posisinya yang berada di tengah terminal membuat tugu sangat mudah ditemukan. Kendaraan biasanya berhenti di sekitar kawasan tersebut, sementara perjalanan menuju perkampungan Baduy selanjutnya ditempuh melalui jalan yang menanjak dan jalur perbukitan.

Ciboleger sendiri berada di Desa Bojong Menteng, bukan di kampung Baduy Dalam. Kawasan ini berfungsi sebagai ruang peralihan antara akses kendaraan modern dan perjalanan menuju wilayah adat Kanekes.

Indonesia Travel menyebut Ciboleger sebagai gerbang utama sekaligus titik pertemuan terakhir sebelum perjalanan memasuki kawasan adat.

Karena itulah keberadaan sebuah tugu penyambutan terasa cukup masuk akal. Secara visual, ia seperti memberi tanda bahwa perjalanan budaya baru saja dimulai.

Seperti Apa Bentuk Tugu Ciboleger?

Bentuk tugu ini cukup mudah dikenali. Sebuah pedestal bundar menjadi dasar bagi empat patung manusia yang menggambarkan ayah, ibu, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan.

Pada tubuh tugu terdapat gambar bernuansa lingkungan dan kehidupan pedesaan, sementara tulisan penyambutan Ciboleger terlihat pada bagian depannya.

Sosok ayah digambarkan mengenakan tudung dan membawa perlengkapan yang berkaitan dengan aktivitas agraris. Di sebelahnya terdapat sosok ibu serta dua anak. Posisi tangan beberapa patung diarahkan ke depan seolah sedang menyambut orang yang baru tiba.

Menariknya, arah tangan patung bukan hanya pose dekoratif. Laporan detikTravel menyebut tangan tersebut mengarah menuju pintu masuk Desa Kanekes.

Desain seperti ini membuat tugu mempunyai fungsi visual yang sangat jelas. Tanpa perlu papan penjelasan panjang, wisatawan segera mendapat kesan tentang masyarakat dan kebudayaan yang akan mereka temui sepanjang perjalanan.

Cerita Keluarga Mursid di Balik Patung Ciboleger

Bagian paling menarik dari Tugu Ciboleger adalah cerita mengenai sosok yang dijadikan modelnya. Pada 2023, detikTravel mewawancarai Mursid, seorang pedagang hasil bumi Baduy yang juga bekerja sebagai pemandu wisata.

Saat berada di depan patung, Mursid mengungkap bahwa sosok ayah pada tugu tersebut dibuat berdasarkan wajah ayahnya. Seniman yang membuat patung disebut mengenal dekat keluarga mereka.

Cerita tidak berhenti pada satu sosok.

Menurut Mursid, empat patung tersebut pada dasarnya menggambarkan keluarganya: ayah, ibu, dirinya ketika masih kecil, serta salah seorang adiknya. Saat patung dibuat, keluarganya baru memiliki dua anak; adik lainnya lahir kemudian.

Detail ini membuat tugu terasa jauh lebih personal.

Jika biasanya landmark wisata dibangun menggunakan tokoh simbolik tanpa identitas tertentu, patung Ciboleger justru memiliki kaitan dengan keluarga nyata dari lingkungan masyarakat Baduy.

Karena itu, ikon ini bisa dibaca sebagai pertemuan antara simbol wisata dan cerita kehidupan lokal.

Apakah Patung Itu Menggambarkan Baduy Dalam?

Sepintas, patung tersebut sering dijelaskan sebagai representasi keluarga Baduy Dalam. Namun ada detail menarik pada pakaiannya.

detikTravel mencatat bahwa figur dalam patung mengenakan baju putih tetapi menggunakan bawahan berwarna hitam.

Mursid sendiri menyoroti bahwa pakaian masyarakat Baduy Dalam umumnya mempunyai ciri berbeda, dan ia menduga desain patung tersebut mungkin merupakan perpaduan representasi Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Kajian IPB mengenai masyarakat Baduy juga membedakan karakter pakaian kedua kelompok.

Baduy Dalam dikenal dengan penggunaan warna putih dan hitam dalam aturan busananya, sementara Baduy Luar banyak dikenali melalui pakaian hitam atau biru gelap dan ikat kepala bermotif biru.

Artinya, patung sebaiknya dipahami sebagai representasi visual wisata, bukan dokumentasi etnografi yang harus dianggap sempurna sampai setiap detail pakaian.

Justru hal kecil ini memberi insight menarik: ikon pariwisata sering menyederhanakan identitas budaya agar mudah dibaca oleh pengunjung.

Karena itu, mengenal masyarakat Baduy secara langsung tetap jauh lebih bernilai daripada menyimpulkan kebudayaan mereka hanya dari sebuah patung.

Dari Penanda Terminal Menjadi Spot Foto Ikonik

Tugu Ciboleger sekarang mempunyai fungsi yang lebih besar daripada penanda lokasi.

Jadesta secara resmi mencantumkan spot foto Tugu Patung Ciboleger Baduy dalam daftar atraksi Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy. Ini menunjukkan bahwa keberadaan tugu telah menjadi bagian dari pengalaman wisata kawasan tersebut.

Bagi wisatawan, tugu menjadi semacam titik “sudah sampai”.

Rombongan biasanya bertemu di terminal, melakukan persiapan, bertemu pemandu, kemudian berfoto sebelum trekking dimulai.

Terminal Ciboleger sendiri berkembang sebagai tempat berkumpulnya pemandu, penyedia jasa wisata, pedagang suvenir, serta pengunjung yang hendak masuk ke kawasan Baduy.

Foto di depan tugu kemudian menjadi semacam dokumentasi awal perjalanan.

Menariknya lagi, spot tersebut dapat dinikmati tanpa harus berjalan jauh. Jadi, pengunjung yang datang ke Ciboleger tetapi tidak melakukan trekking panjang pun tetap dapat melihat salah satu ikon yang paling dikenal dari jalur wisata Baduy.

Tugu sebagai Simbol Peralihan Dua Dunia

Ada makna menarik yang bisa dibaca dari lokasi tugu. Di satu sisi terdapat terminal, kendaraan, toko, fasilitas wisata, komunikasi digital, dan aktivitas ekonomi modern.

Beberapa langkah setelah meninggalkan kawasan tersebut, perjalanan mulai bergeser menuju jalan kaki, perbukitan, rumah tradisional, serta kehidupan masyarakat adat yang mempunyai aturan sendiri.

Terminal Ciboleger memang berperan sebagai zona peralihan sebelum wisatawan masuk menuju wilayah Baduy.

Karena itu, empat figur yang mengangkat tangan seolah sedang mengatakan: dari titik inilah pengalaman baru dimulai.

Makna tersebut memang sebuah interpretasi, bukan penjelasan resmi pembuat monumen. Namun letak tugu, arah patung, serta fungsinya sebagai landmark penyambutan membuat interpretasi tersebut cukup masuk akal.

Ciboleger sendiri terus berkembang sebagai ruang pertemuan wisata dan budaya.

Penelitian terbaru mengenai lanskap Ciboleger-Kaduketug menyoroti meningkatnya tekanan modernisasi dan pariwisata serta pentingnya menjaga kesinambungan budaya dan ekologi masyarakat Baduy Luar.

Jadi, tugu bukan hanya menarik sebagai latar foto. Ia berdiri tepat di sebuah ruang yang mempertemukan dua cara hidup.

Tugu Ciboleger dan Perkembangan Wisata Bojong Menteng

Keberadaan tugu juga ikut membantu membentuk identitas wisata Desa Bojong Menteng.

Jadesta memperkenalkan Bojong Menteng Landscape Baduy melalui berbagai daya tarik, termasuk tugu Ciboleger, kerajinan koja, aktivitas madu Trigona, dan pengalaman budaya di sekitar wilayah Baduy.

Peran kawasan ini semakin penting ketika akses transportasi berkembang.

Pada 2026, Pemerintah Provinsi Banten memperkenalkan layanan DAMRI yang menghubungkan Serang dan Ciboleger melalui beberapa titik, termasuk Rangkasbitung, sehingga akses transportasi publik menuju gerbang wisata Baduy semakin terbuka.

Semakin banyak orang datang, semakin penting pula menjaga identitas lokal agar Ciboleger tidak berubah menjadi sekadar tempat transit.

Landmark seperti tugu dapat membantu memperkuat identitas tersebut, terutama jika cerita di baliknya ikut disampaikan kepada wisatawan.

Cerita tentang keluarga Mursid misalnya jauh lebih berkesan daripada hanya mengatakan, “ini patung orang Baduy.”

Jangan Berhenti Hanya untuk Berfoto

Tidak ada yang salah dengan mengabadikan perjalanan di depan Tugu Ciboleger. Justru di area terminal, tugu tersebut memang dikenal sebagai spot foto wisata.

Namun setelah kamera disimpan, masih banyak hal yang dapat dipelajari.

Wisatawan bisa mengenal kerajinan masyarakat, melihat tas koja, mencicipi gula aren, berbicara dengan pemandu lokal, atau melanjutkan perjalanan menuju perkampungan Baduy. Desa Wisata Bojong Menteng juga menawarkan beragam aktivitas berbasis budaya dan produk lokal.

Ketika memasuki wilayah adat, sikap pun harus berubah dari sekadar wisatawan menjadi tamu.

Indonesia Travel mengingatkan bahwa perjalanan dari Ciboleger menuju perkampungan Baduy harus mengikuti aturan lokal, terutama ketika memasuki Baduy Dalam yang memiliki pembatasan lebih ketat mengenai perangkat elektronik dan dokumentasi.

Dengan begitu, tugu benar-benar menjadi titik awal untuk mengenal budaya, bukan hanya background media sosial.

Cerita Sejarah Tugu Masih Perlu Didokumentasikan

Satu hal menarik adalah informasi terperinci mengenai sejarah pembangunan tugu masih cukup terbatas.

Sumber yang tersedia dapat menjelaskan keberadaan empat patung, cerita keluarga yang menjadi model, lokasi monumen, serta fungsinya sebagai ikon wisata.

Namun sumber tepercaya yang secara jelas mencatat tahun pembangunan, nama seniman, pihak yang menggagas, dan proses peresmian Tugu Ciboleger belum mudah ditemukan secara daring.

Ini menjadi peluang dokumentasi sejarah lokal.

Wawancara dengan tokoh Desa Bojong Menteng, warga senior Ciboleger, keluarga Mursid, pemerintah desa, atau pembuat patung jika masih dapat dilacak bisa menghasilkan cerita yang jauh lebih lengkap.

Pelestarian sebuah landmark memang bukan hanya dengan mengecat ulang bangunannya. Cerita mengenai siapa yang membuat, mengapa dibuat, dan bagaimana masyarakat memaknainya juga perlu disimpan.

Tanpa dokumentasi tersebut, generasi berikutnya mungkin masih melihat patungnya, tetapi kehilangan cerita manusianya.

Tugu Ciboleger dan cerita di balik ikon wisatanya menunjukkan bahwa sebuah landmark sederhana bisa memiliki kisah yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Empat patung di tengah Terminal Ciboleger tidak hanya melambangkan keluarga Baduy, tetapi menurut kesaksian Mursid juga mengambil keluarganya sendiri sebagai model.

Kini tugu menjadi salah satu spot wisata resmi Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy dan sekaligus penanda sebelum perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Kanekes.

Jika datang ke Ciboleger, silakan mengabadikan foto di depan tugunya. Namun jangan berhenti sampai di situ. Kenali cerita warga, dukung produk lokal, dan pahami adat masyarakat yang akan dikunjungi.

Dengan begitu, perjalanan ke Ciboleger menjadi lebih dari sekadar berburu foto-tetapi kesempatan mengenal cerita dan budaya Lebak secara lebih dekat.

FAQ

1. Di mana Tugu Ciboleger berada?

Tugu berada di kawasan Terminal Ciboleger, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Terminal tersebut menjadi salah satu gerbang utama menuju kawasan Baduy.

2. Berapa jumlah patung di Tugu Ciboleger?

Ada empat figur yang menggambarkan ayah, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan. Menurut Mursid, figur tersebut dibuat dengan keluarganya sebagai model.

3. Siapa model patung Tugu Ciboleger?

detikTravel melaporkan bahwa modelnya adalah keluarga Mursid, seorang warga Baduy yang berprofesi sebagai pedagang hasil bumi dan pemandu wisata. Figur ayah pada patung dibuat menyerupai ayah Mursid.

4. Apakah Tugu Ciboleger merupakan tempat wisata?

Tugu menjadi salah satu spot foto yang tercantum dalam atraksi Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy di Jadesta Kementerian Pariwisata.

5. Apakah dari Tugu Ciboleger bisa langsung menuju Baduy?

Ciboleger menjadi titik awal populer menuju wilayah Baduy. Setelah dari kawasan terminal, perjalanan ke perkampungan dilakukan dengan berjalan kaki melalui medan perbukitan dan harus mengikuti aturan adat yang berlaku.