Datang ke kawasan Bojong Menteng dan jalur menuju Baduy rasanya kurang lengkap jika hanya menikmati pemandangan.
Ada berbagai hasil kerajinan yang menarik untuk diperhatikan, mulai dari kain tenun, lomar, pakaian tradisional, hingga sebuah tas berwarna cokelat dengan rajutan terbuka yang terlihat sederhana. Tas itu dikenal sebagai koja.
Tas koja yang bisa ditemui di Bojong Menteng sebenarnya merupakan kerajinan yang identik dengan masyarakat Baduy atau Urang Kanekes.
Platform resmi Jadesta Kementerian Pariwisata memasukkan tas koja Baduy sebagai salah satu produk kerajinan yang dapat ditemui dan dibeli dalam perjalanan wisata Baduy yang dipasarkan melalui Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy.
Keunikannya terletak pada bahan dan proses pembuatannya. Alih-alih menggunakan kain atau kulit sintetis, koja dibuat dari serat kulit pohon teureup dan dikerjakan dengan teknik simpul secara tradisional.
Tas sederhana ini akhirnya bukan cuma tempat membawa barang, tetapi juga bagian dari identitas budaya Baduy.
Apa Itu Tas Koja?
Tas koja adalah tas tradisional masyarakat Baduy yang dibuat menggunakan serat kulit pohon teureup atau terap.
Indonesia.go.id mencatat koja atau jarog sebagai tas rajut berbahan kulit kayu teureup yang digunakan masyarakat Kanekes dan biasa diselempangkan pada tubuh.
Bentuk klasiknya relatif sederhana dengan warna cokelat alami. Bagian badan tas memiliki celah-celah berbentuk seperti jaring karena dibuat dari susunan simpul, bukan lembaran bahan yang dijahit seperti tas modern.
Penelitian mengenai tas koja khas Baduy dari Universitas Negeri Yogyakarta menemukan adanya beberapa bentuk yang berkembang.
Selain koja dan jarog yang digunakan masyarakat Baduy, perajin Baduy Luar juga membuat variasi seperti tas selempang, tempat botol minum, dan tas berukuran kecil untuk kebutuhan pengunjung.
Jadi, bentuk koja yang ditemukan sekarang bisa cukup beragam meskipun tetap mempertahankan ciri bahan serat alaminya.
Mengapa Tas Koja Bisa Ditemui di Bojong Menteng?
Ada hal yang perlu diluruskan agar tidak salah memahami asal kerajinan ini. Tas koja pada dasarnya merupakan kerajinan masyarakat Baduy, bukan kerajinan yang secara eksklusif berasal dari Desa Bojong Menteng.
Lalu mengapa tas tersebut bisa dikaitkan dengan Bojong Menteng?
Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy berada di Kecamatan Leuwidamar dan diperkenalkan Jadesta sebagai pintu masuk menuju Saba Budaya Baduy.
Dalam paket perjalanan Baduy yang ditampilkan Jadesta, wisatawan dapat melihat kerajinan masyarakat sekaligus membeli produk seperti tenun Baduy, pakaian Baduy, gula aren, dan tas koja.
Hubungan geografis dan aktivitas wisata inilah yang membuat koja mudah ditemui ketika seseorang berada di sekitar Bojong Menteng dan jalur menuju kawasan Kanekes.
Tas ini bahkan termasuk produk yang cukup dikenal pengunjung. Pemerintah Provinsi Banten pada 2026 mencatat bahwa tas koja, lomar, dan madu hutan merupakan beberapa produk yang banyak dicari pengunjung ketika mengenal kehidupan masyarakat Baduy.
Terbuat dari Kulit Pohon Teureup
Bagian paling menarik dari tas koja mungkin adalah bahan bakunya.
Kerajinan ini menggunakan serat dari kulit pohon teureup. Kajian mengenai tas koja Baduy menjelaskan bahwa kulit teureup dipilih karena seratnya mempunyai kekuatan dan ketahanan yang sesuai untuk membuat tas.
Sumber Indonesia Kaya juga mencatat bahwa kulit pohon teureup dikenal tahan terhadap rayap. Bahan tersebut diproses secara tradisonal hingga berubah menjadi serat yang dapat dijadikan tali.
Penggunaan bahan seperti ini menggambarkan bagaimana masyarakat memanfaatkan tumbuhan di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Alih-alih bergantung pada bahan sintetis, masyarakat Baduy mengolah bahan alami menjadi barang yang fungsional. Ketika sudah rusak dan tidak digunakan lagi, material organiknya juga lebih mudah terurai dibanding banyak bahan tas modern.
Bagaimana Proses Pembuatan Tas Koja?
Pembuatan koja membutuhkan beberapa tahapan dan tidak selesai dalam hitungan menit.
Penelitian UNY menjelaskan bahwa perajin terlebih dahulu mencari pohon teureup yang sudah cukup umur. Kulit pohon kemudian diambil, direndam agar seratnya dapat dipisahkan, lalu dijemur hingga kering. Serat tersebut selanjutnya dipilin menjadi tali sebelum mulai dibentuk menjadi tas.
Disusun menggunakan teknik simpul
Koja bukan sekadar anyaman biasa. Penelitian tersebut mencatat adanya teknik simpul yang digunakan masyarakat Baduy, termasuk simpul yang disebut jegjeg serta simpul lingkar. Susunan simpul inilah yang menghasilkan pola lubang khas pada badan tas.
Proses keseluruhannya dapat membutuhkan beberapa hari bahkan sekitar satu minggu, tergantung bahan, ukuran, dan bentuk yang dikerjakan.
Waktu pengerjaan tersebut membantu menjelaskan mengapa kerajinan tangan sebaiknya tidak dipandang hanya berdasarkan banyaknya bahan yang digunakan. Ada keterampilan dan waktu perajin yang ikut membentuk nilainya.
Warna Cokelatnya Berasal dari Bahan Alami
Koja klasik mudah dikenali dari nuansa cokelatnya. Warna tersebut bukan selalu berasal dari cat pabrikan.
Kajian tas koja Baduy menyebut warna cokelat muda berasal secara alami dari serat kulit pohon teureup. Dalam beberapa pembuatan, masyarakat juga mengenal proses pewarnaan untuk menghasilkan warna cokelat yang lebih pekat.
Karakter ini memberi setiap tas tampilan yang terasa organik. Warna, tekstur, dan detail seratnya tidak selalu tampak persis seragam seperti barang buatan mesin.
Justru ketidakteraturan kecil tersebut menjadi bagian dari daya tarik kerajinan tangan.
Saat melihat koja dari dekat, kita dapat dengan mudah melihat bagaimana serat-serat bahan saling terhubung. Tidak ada lapisan kain tebal yang menyembunyikan konstruksinya.
Dari Tas Berladang Menjadi Suvenir Budaya
Sebelum menjadi barang yang banyak dicari wisatawan, koja memiliki fungsi yang sangat praktis.
Masyarakat Baduy menggunakannya ketika menjalankan berbagai kegiatan sehari-hari. Indonesia Kaya mencatat tas tersebut digunakan antara lain ketika berladang, menanam padi, dan melakukan kegiatan di sekitar sungai.
Bentuk yang dapat diselempangkan membuat tangan tetap bebas bergerak. Hal ini tentu cocok untuk masyarakat yang banyak beraktivitas di ladang maupun berjalan kaki.
Seiring meningkatnya kunjungan wisata, bentuk tas kemudian berkembang. Penelitian UNY menemukan bahwa masyarakat Baduy Luar membuat variasi seperti tas selempang, tas botol air, dan tas kecil sebagai respons terhadap kebutuhan serta permintaan pengunjung.
Perubahan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional tidak selalu bersifat statis. Bentuknya dapat beradaptasi sambil mempertahankan bahan dan teknik dasarnya.
Koja sebagai Bagian dari Identitas Budaya Baduy
Tas koja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan Urang Kanekes.
Kajian UNY menyebut koja sebagai salah satu penanda identitas masyarakat Baduy dan menghubungkan penggunaan material serta konstruksinya dengan kedekatan masyarakat terhadap alam.
Tas ini juga sering terlihat sebagai bagian dari penampilan masyarakat Baduy. Pemerintah Provinsi Banten mencatat koja sebagai tas rajut khas yang melengkapi pakaian tradisional Baduy.
Karena itu, membeli koja berbeda dengan membeli tas produksi massal biasa.
Di balik barang tersebut terdapat pengetahuan tentang tumbuhan, keterampilan mengolah serat, teknik membuat simpul, serta tradisi yang diteruskan lintas generasi.
Hal inilah yang membuat nilai budaya koja jauh melampaui fungsi praktisnya.
Tas Koja dan Peluang Ekonomi Masyarakat Lokal
Kerajinan tradisional juga mempunyai dimensi ekonomi.
ANTARA melaporkan bahwa tas koja termasuk produk Baduy yang diminati pengunjung. Bahan alaminya, bentuk yang khas, dan nilai seni tradisional membuatnya menarik sebagai souvenr maupun barang penggunaan sehari-hari.
Pemasarannya bahkan telah lama bergerak menuju kanal digital. ANTARA pernah mencatat program UKM digital di Ciboleger yang membantu pelaku usaha Baduy mengenalkan produk seperti tas koja, tenun, lomar, dan gula aren melalui internet.
Bagi kawasan Bojong Menteng yang berada di jalur wisata Baduy, keberadaan produk seperti koja dapat ikut menciptakan aktivitas ekonomi.
Wisatawan yang datang tidak hanya membutuhkan transportasi dan pemandu. Mereka juga berpotensi membeli kerajinan, makanan, minuman, maupun produk lokal lainnya.
Semakin banyak belanja wisata yang benar-benar sampai kepada perajin dan masyarakat setempat, semakin besar pula manfaat ekonomi pariwisata bagi komunitas.
Tips Membeli Tas Koja saat Berkunjung
Jika ingin membeli koja di sekitar Bojong Menteng atau kawasan wisata Baduy, jangan hanya melihatnya sebagai barang murah atau mahal.
Perhatikan bahan, kerapian simpul, ukuran, dan fungsi tas. Tas handmade sangat mungkin mempunyai sedikit perbedaan bentuk antara satu produk dan produk lainnya.
Tanyakan pula asal barang dan siapa perajinnya jika memungkinkan. Cara ini membantu memastikan bahwa pembelian lebih dekat dengan rantai ekonomi masyarakat lokal.
Hindari menawar secara berlebihan hanya karena produk terlihat sederhana. Proses mengolah kulit teureup menjadi serat dan membentuknya menjadi tas dapat memakan waktu berhari-hari.
Yang dibeli bukan sekadar sejumlah serat kayu, tetapi juga waktu, keterampilan, dan pengetahuan budaya pembuatnya.
Menjaga Kerajinan Koja di Tengah Perubahan Zaman
Tas modern sekarang tersedia dalam hampir semua ukuran, bahan, dan harga. Namun, justru di tengah produk pabrikan tersebut koja memiliki karakter yang semakin mudah dibedakan.
Bahan alami, proses manual, serta hubungan kuat dengan budaya Baduy menjadi keunggulan yang sulit ditiru secara autentik oleh produksi massal.
Tantangannya adalah bagaimana pengembagan pasar tidak menghilangkan nilai budayanya.
Inovasi bentuk untuk kebutuhan wisatawan bisa terus dilakukan, tetapi pengetahuan mengenai bahan, teknik tradisional, dan cerita masyarakat pembuatnya juga perlu dipertahankan.
Wisata yang bertanggung jawab dapat membantu dengan memberikan ruang kepada perajin untuk memperoleh manfaat langsung dari karya mereka.
Dengan cara itu, koja tidak berhenti sebagai benda pajangan, tetapi tetap menjadi kerajinan hidup yang terus digunakan dan diwariskan.
Tas koja yang bisa ditemui di Bojong Menteng merupakan salah satu kerajinan khas Baduy yang menarik untuk dikenal ketika berkunjung ke kawasan Leuwidamar.
Jadesta secara khusus menyebut tas koja sebagai salah satu produk yang dapat dibeli dalam perjalanan menuju kawasan Baduy melalui Desa Wisata Bojong Menteng Landscape Baduy.
Keistimewaan koja terdapat pada penggunaan serat kulit pohon teureup, teknik simpul tradisional, warna alami, serta fungsi yang sejak lama menyatu dengan aktivitas masyarakat Kanekes.
Kini kerajinan tersebut juga berkembang menjadi produk yang diminati wisatawan. Jika berkunjung ke Bojong Menteng dan kawasan Baduy, cobalah melihat koja lebih dekat.
Membeli langsung dari perajin atau penjual lokal dapat menjadi cara sederhana untuk membawa pulang kerajinan sekaligus ikut mendukung keberlanjutan ekonomi dan budaya masyrakat setempat.
FAQ
1. Apa itu tas koja?
Tas koja adalah tas tradisional masyarakat Baduy yang dibuat dari serat kulit pohon teureup atau terap dan dibentuk menggunakan teknik simpul.
2. Apakah tas koja berasal dari Bojong Menteng?
Koja merupakan kerajinan khas masyarakat Baduy atau Urang Kanekes. Namun, tas ini dapat ditemui dalam aktivitas wisata yang dipasarkan melalui Desa Wisata Bojong Menteng karena wilayah tersebut menjadi salah satu akses menuju kawasan Baduy.
3. Tas koja terbuat dari apa?
Bahan utamanya adalah serat kulit pohon teureup. Kulit tersebut diproses, dikeringkan, dipilin menjadi tali, kemudian dibentuk menjadi tas.
4. Berapa lama pembuatan tas koja?
Pengerjaannya dapat membutuhkan beberapa hari hingga sekitar satu minggu, tergantung bentuk dan proses yang dilakukan perajin.
5. Untuk apa masyarakat Baduy menggunakan tas koja?
Secara tradisional, koja digunakan untuk membawa barang saat melakukan berbagai aktivitas seperti berladang dan kegiatan sehari-hari. Saat ini sejumlah bentuk juga dikembangkan sebagai kerajinan dan suvenir bagi pengunjung.
